Contoh Pupuh Ginada – Bahasa BALI

Di Indonesia, disamping bahasa Indonesia terdapat ratusan bahasa daerah. Salah satunya adalah
bahasa Bali. Sebagai salah satu bahasa daerah di Indonesia bahasa Bali merupakan bahasa yang masih
hidup, berkembang, dibina, dan didukung oleh masyarakat penuturnya, yaitu sebagian besar masyarakat
Bali. Sebagian besar masyarakat Bali menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa ibu atau bahasa pertama.
Di samping sebagai alat komunikasi, baik di dalam keluarga maupun antarsesama masyarakat Bali,
bahasa Bali juga merupakan sarana pengungkap kebudayaan Bali dalam arti luas. Oleh karena itu,
mempelajari bahasa Bali secara langsung juga berarti mempelajari kebudayaan Bali.
Sebagai penutur bahasa Bali masyarakat Bali mempunyai banyak wacana kebudayaan. Wacana
kebudayaan itu merupakan hasil penggunaan bahasa yang mencerminkan bahasa sebagai sumber daya
yang memiliki bentuk, fungsi, dan makna. Wacana kebudayaan masyarakat Bali dapat berupa: teks
media, pepatah dan peribahasa, cerita rakyat, larangan, tembang (geguritan, kidung, wirama), dan lain-
lain. Fenomena kebahasaan tersebut merupakan fokus kajian dalam Linguistik Kebudayaan.
Tembang sebagai salah satu wacana kebudayaan masyarakat Bali dikenal dan digunakan oleh
masyarakat Bali. Artinya, tembang sebagai wacana kebudayaan ada dan hidup di masyarakat Bali.
Menurut Sidan (2005: 28) tembang di Bali dapat dibagi menjadi: sekar alit, sekar macepat (sekar
alit/pupuh), sekar madya (kidung), dan sekar agung (wirama).
Sekar alit sebagai salah satu jenis tembang di Bali, sering disebut dengan istilah tembang
macapat, gaguritan atau pupuh. Ada beberapa jenis tembang macapat (pupuh) yang terdapat di
Bali, yang masih digemari, digunakan, dan dipelihara oleh masyarakatnya. Contoh tembang
macapat (pupuh) adalah: mijil, pucung, mas kumambang, ginada, ginanti, semarandhana,
durma, pangkur, sinom, dan dandang.
Pupuh Ginada sebagai bagian dari sekar alit, sampai saat ini masih digunakan di masyarakat Bali.
Salah satu cotoh Pupuh Ginada berjudul “Eda Ngaden Awak Bisa”. Pupuh ini terdiri dari tujuh baris
seperti berikut ini.

 

De ngaden awak bisa
Depang anake ngadanin
Geginane buka nyampat
Anak sai tumbuh luu
Ilang luu buka katah
Yadin ririh
Liu nu peplajahan

 

Apabila diperhatikan secara sepintas, Pupuh Ginada “Eda Ngaden Awak Bisa” kesannya biasa
saja seperti halnya Pupuh Ginada lainnya. Sebagai sebuah teks dan merupakan wacana kebudayaan
masyarakat Bali Pupuh Ginada “Eda Ngaden Awak Bisa” ternyata mengandung nilai-nilai filosofi
kehidupan yang baik.
Ada beberapa kajian terkait yang menjadi inspirasi sekaligus pembanding dalam kajian ini.
Pertama, Dewa Gede Bambang Erawan (2012) dengan judul penelitian ”Analisis Bentuk, Fungsi, dan
Makna Wacana Geguritan Aji Palayon”. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa: (1) Wacana
Geguritan Aji Palayon berbentuk puisi yang bersifat naratif dan masing-masing pupuh diikat oleh pada
lingsa, (2) fungsi Geguritan Aji Palayon adalah sebagai sarana pendidikan moral (etika), pendidikan
Ketuhanan (Widi Tatwa), dan sebagai sarana hiburan, dan (3) makna Geguritan Aji Palayon adalah
makna estetika, karmaphala, keharmonisan alam, dan rwa bhineda. Di samping itu, disebutkan bahwa
Geguritan Aji Palayon memiliki beberapa nilai karakter, di antaranya: kecintaan kepada Tuhan beserta
ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran/amanah, hormat dan santun, dan suka
menolong.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Wilis Permadi (2014) dengan judul ”Analisis Bentuk Lagu
dan Nilai-nilai Pendidikan Moral dalam Sekar Rare di Bali”. Penelitian ini mengunakan lima lagu Sekar
Rare sebagai objeknya, yaitu: Putri Cening Ayu, Jenggot Uban, Meong-meong, Dadong Dauh, dan Juru
Pencar. Simpulan penelitian ini adalah dari kelima Sekar Rare yang dinalisis memiliki bentuk lagu yang
tergolong ke dalam bentuk lagu satu bagian dan bersukat 4/4. Nilai-nilai pendidikan moral dalam kelima
Sekar Rare tersebut meliputi: 1) kepatuhan, 2) tanggung jawab, 3) kepedulian, 4) menjauhi sifat rakus dan
tamak, 5) kerja keras, dan 6) tidak melakukan perbuatan yang dapat merugikan orang lain.
Uraian di atas menunjukkan bahwa tembang-tembang di Bali yang merupakan wacana
kebudayaan Bali sangat menarik untuk dikaji termasuk tembang atau pupuh“Eda Ngaden Awak Bisa”. Di
samping itu, uraian di atas juga menunjukkan bahwa pupuh “Eda Ngaden Awak Bisa” belum ada yang
mengkaji khususnya dari segi Linguistik Kebudayaan yang menjadikan bentuk, fungsi, dan makna
sebagai fokus kajiannya. Oleh karena pupuh “Eda Ngaden Awak Bisa” merupakan wacana kebudayaan
sebagai hasil penggunaan bahasa yang mencerminkan bahasa sebagai sumber daya yang memiliki bentuk,
fungsi, dan makna, diangkatlah penelitian ini dengan judul Pupuh Ginada “Eda Ngaden Awak Bisa”:
Kajian Linguistik Kebudayaan.

Leave a Comment